Seminar Nasional “Membangun Kekuatan Ekonomi Umat Berbasis Riset”

seminar-nasional-AFEB-PTM

Dosen atau tenaga pengajar di kampus harus memiliki budaya riset terutama di bidang ekonomi. Diharapkan kampus dapat meningkatkan budaya riset dan bertujuan untuk dapat membangun ekonomi dan menggali kekuatan umat.

Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah Prof Dr Lincoln Arsyad Msc, PhD dalam seminar bertajuk “Membangun Kekuatan Ekonomi Umat Berbasis Riset” di Universitas Muhammadiyah Surabaya jalan Sutorejo, Rabu (22/11/2017).

“Budaya riset di tenaga pendidik atau dosen di dunia kampus belumlah terlalu tinggi. Ini masih memprihatinkan bagi kita. Padahal riset dan pengetahuan itu dunia kita. Pentingnya kontribusi riset para dosen untuk kepentingan kemajuan ekonomi,” tegasnya.

Memprihatinkan, Budaya Riset Dosen Belum Tinggi

Potensi ekonomi syariah di Indonesia akan terus tumbuh. Seperti diketahui, ekonomi syariah terbesar di Indonesia saat ini masih sebatas hanya di dunia perbankan, dan belum menyentuh ke sektor lainnya.

Potensi besar ekonomi syariah itu disampaikan Prof Firmanzah PhD, Rektor Universitas Paramadina Jakarta dalam seminar bertajuk ‘Membangun Kekuatan Ekonomi Umat Berbasis Riset’ yang dihelat Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Rabu (22/11/2017).

Prof Firmanzah memaparkan, sebanyak 86 persen negara di dunia sudah berkiblat menggunakan ekonomi syariah dalam usaha perekonomiannya. “Ekonomi syariah akan tumbuh. Karena ekonomi Islam bukan hanya sebagai institusi keuangan saja. Tapi juga properti syariah, wisata Syariah. Bahkan halal untuk kosmetik juga masuk di sini dan fashion Islami merupakan tren baru dunia,” kata Firmanzah.

Lebih lanjut dikatakannya, Global Islami Economic dalam progresnya melaporkan, secara global produk bernuansa Islam sangat menjanjikan. Bahkan Kota London di Inggris sudah akan berkiblat ke ekonomi Islam. Begitu juga Jepang yang akan mau meniru Thailand.

“Di tahun 2015, ada Rp 26 ribu triliun pergerakan ekonomi dunia Islam. Ini yang menyebabkan bank dan asuransi melirik dunia syariah. Dan ekonomi Indonesia di negara Islam kini masih di urutan ke-10 setelah Malaysia, Arab, Qatar dan Bahrain,” ujarnya.

Oleh karena itu, secara global di negara Indonesia kontribusi di dunia perbankan masih 3,5 persen saja. Dan menurutnya, hal tersebut merupakan peluang yang besar.

Prof Firmanzah: Potensi Ekonomi Syariah di Indonesia Masih Terus Tumbuh

Penerapan ekonomi Islam di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain. Menurut Dosen Fak Ekonomi dan Bisnis, Ekonomi Syariah Universitas Airlangga (Unair), Raditya Sukmana, hal itu terjadi karena Indonesia baru menerapkan Islamic Finance yang sudah umum.

“Ekonomi muslim Indonesia jauh ketinggalan. Di bidang Pendidikan dan Kesehatan juga tertinggal. Padahal itu semua kontribusi terpenting yang disediakan oleh pemerintah,” kata Raditya Sukmana di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya saat menjadi pembicara dalam seminar ‘Membangun Kekuatan Ekonomi Umat Berbasis Riset’, Rabu (22/11/2017).

Penerapan Ekonomi Islam di Indonesia Tertinggal, Diharap Terapkan ‘Islamic Social Finance’

Setiap pengambilan keputusan dalam pengelolaan amal usaha Muhammadiyah (AUM) diharapkan berbasis fakta dan data. Bukan sebaliknya berbasis coba-coba alias trial and error.

Anna Marina, Dekan Fakultas Eekonomi dan Bisnis (FEB) UMSurabaya, menyampaikan hal itu saat membuka sesi pertama panel discussion Seminar Nasional dalam rangkaian acara Musyawarah Nasional (Munas) I Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bussiness (AFEB) di lantai 6 Gedung G Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), Rabu (22/11/2017).

Anna menyatakan, perlunya sinergi antar akademisi dari seluruh FEB Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia dalam bentuk memperbanyak program riset dengan menganalisa data dan fakta.

Hal itu, kata Anna, penting agar segala kebijakan dan tata kelola AUM ataupun Muhammadiyah tidak berdasarkan trial and error.

Anna menjelaskan, dari beberapa hasil penelitiannya pada AUM bidang pendidikan dan kesehatan di Jawa Timur diketahui rata-rata policy atau kebijakan yang diambil dalam penyelesaian masalah AUM masih banyak yang berbasis coba-coba sehingga seringkali solusi yang didapat adalah bagaikan obat yang resepnya kurang tepat.

“Solusi itu hanya mampu menghilangkan sakit dalam jangka pendek tetapi dalam jangka panjang seringkali permasalahan yang ada tetap muncul,” ungkap Anna.

Pentingnya Riset bagi Muhammadiyah, agar Tak Trial and Error